Kadang hidup ini menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya saat
perjalanan, kerja keras, banyak masalah, kena musibah atau saat membaca
aksesoris dunia yang dilihat, didengar dan dirasakan.
Saat bisa melihat titik cerah yang membawa arti kesadaran diri pada Penciptannya. Saat itulah kadang kita baru menyadari banyak waktu yang terbuang, yang sia-sia. Kalau boleh diputar ulang ingin rasanya bisa memperbaiki diri, itulah penyesalan.
Namun tidak sedikit orang yang mampu mengendalikan diri dan mampu mengendalikan dunia dan alsesorisnya dijadikan sarana untuk berbagi kebaikan dan manfaat hidup untuk saling mengingatkan dalam ketaqwaan dan kesabaran. Kisah perjalanan ini semoga menjadi inspirasi untuk senantiasa sadar diri, bahwa hidup bukan sekedar bekerja, bermain, bersendagurau tapi muncul kesadaran diri tak lepas dari karunia ilahi, menjalankan tugas sesuai peran fungsi dalam pengabdian padaNya.
Seorang Ibu kira-kira usia 63 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Solo.
Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.
“Dik hendak ke Solo juga?”
“Saya ke Semarang, Bu. Ibu ke Solo?”
“Iya.”
“Ibu sendiri?”
“Iya.” Senyumnya datar. Menghela napas panjang. “Dik kerja dimana?”
“Saya serabutan, Bu,” sahut saya sekenanya.
“Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”
Saya tertegun. “Kok begitu, Bu?”
Ia pun mengisahkan, Suaminya telah meninggal setahun lalu.
Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Belanda. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Sedangkan yang bungsu, masih kuliah S2 di Inggris.
Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.
“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini.
Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua.
Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat suami saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker otak yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat ayahnya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Cina. Sibuk. Iya, sibuk sekali.
Sementara anak bungsu saya mengabari via BBM bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang...”
“Ibu, Ibu yang sabar ya….” Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.
Ia tersenyum kecut. “Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik...
Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya.
Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki...
Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”
Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat Ibu saya.
Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, bertimbun-timbun bagai permadani putih.
Semua manusia sungguh semata hanya sedang menunggu giliran dijemput maut.
Manusia sama sekali tiada nilainya, tiada harganya, tiada pengaruhnya bagi jagat raya ini. Sangat nisbi, naif, dhaif, fana, sumir, kerdil, sebutir debu, senoktah hikayat...
Subhaanaka...Laa ilaaha illaa anta ini kuntu minadhaalimiin. Maha suci Engkau, Tuhanku…. Bimbing diri ini agar tidak tersesat dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki.
Semoga memberi inspirasi dan mengambil hikmah dari cerita ini.
Saat bisa melihat titik cerah yang membawa arti kesadaran diri pada Penciptannya. Saat itulah kadang kita baru menyadari banyak waktu yang terbuang, yang sia-sia. Kalau boleh diputar ulang ingin rasanya bisa memperbaiki diri, itulah penyesalan.
Namun tidak sedikit orang yang mampu mengendalikan diri dan mampu mengendalikan dunia dan alsesorisnya dijadikan sarana untuk berbagi kebaikan dan manfaat hidup untuk saling mengingatkan dalam ketaqwaan dan kesabaran. Kisah perjalanan ini semoga menjadi inspirasi untuk senantiasa sadar diri, bahwa hidup bukan sekedar bekerja, bermain, bersendagurau tapi muncul kesadaran diri tak lepas dari karunia ilahi, menjalankan tugas sesuai peran fungsi dalam pengabdian padaNya.
Seorang Ibu kira-kira usia 63 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Solo.
Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.
“Dik hendak ke Solo juga?”
“Saya ke Semarang, Bu. Ibu ke Solo?”
“Iya.”
“Ibu sendiri?”
“Iya.” Senyumnya datar. Menghela napas panjang. “Dik kerja dimana?”
“Saya serabutan, Bu,” sahut saya sekenanya.
“Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”
Saya tertegun. “Kok begitu, Bu?”
Ia pun mengisahkan, Suaminya telah meninggal setahun lalu.
Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Belanda. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Sedangkan yang bungsu, masih kuliah S2 di Inggris.
Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.
“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini.
Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua.
Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat suami saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker otak yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat ayahnya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Cina. Sibuk. Iya, sibuk sekali.
Sementara anak bungsu saya mengabari via BBM bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang...”
“Ibu, Ibu yang sabar ya….” Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.
Ia tersenyum kecut. “Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik...
Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya.
Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki...
Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”
Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat Ibu saya.
Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, bertimbun-timbun bagai permadani putih.
Semua manusia sungguh semata hanya sedang menunggu giliran dijemput maut.
Manusia sama sekali tiada nilainya, tiada harganya, tiada pengaruhnya bagi jagat raya ini. Sangat nisbi, naif, dhaif, fana, sumir, kerdil, sebutir debu, senoktah hikayat...
Subhaanaka...Laa ilaaha illaa anta ini kuntu minadhaalimiin. Maha suci Engkau, Tuhanku…. Bimbing diri ini agar tidak tersesat dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki.
Semoga memberi inspirasi dan mengambil hikmah dari cerita ini.
0 komentar:
Posting Komentar